LUKISAN
LELAKI YANG MEMERSEMBAHKAN DOMBA
Sri Wintala Achmad
LELAKI paruh baya
berpakaian lusuh menenteng lukisan terbungkus koran dan menggendong tas parasut
di punggungnya. Dialah, Hardi yang berjalan di trotoar di antara jubelan
orang-orang akan berbelanja di mal atau supermarket. Menuju Stasiun Tugu yang
telah dipadati calon penumpang kereta. Sesudah membeli tiket di loket, Hardi
duduk di kursi ruang tunggu di samping perempuan muda.
Sambil
mengisap sigaret, Hardi mencuri-curi pandang pada wajah perempuan muda yang
mengingatkan wajah Miranda. Sephianya sewaktu Hardi menjalani hidup di Jakarta sebagai
pelukis pada lima belas tahun silam. Jan
Baru
setengah batang segaret terbakar, Hardi beranjak dari ruang tunggu itu.
Menginjak siusa sigaret dengan sepatu bututnya, sebelum Hardi memasuki gerbong
ke tiga. Seusai meletakkan lukisan dan tas parasutnya di lantai kereta, Hardi
duduk di kursi 3 A. Di samping perempuan muda itu.
Selepas
senja, kereta meninggalkan Stasiun Tugu. Dari balik jendela kereta, pandangan
Hardi diarahkan ke luar. Tampaklah lampu-lampu berkejaran seperti waktu yang
terus menggerus usianya. Merampok miliknya yang berharga dalam hidupnya. Istri
dan ketiga anaknya yang tewas terbakar bersama rumahnya.
Dalam
diam, Hardi mengutuk dirinya sendiri. Hidup sebagai suami jahat yang telah
mengkhianati cinta istrinya, berselingkuh dengan Miranda. Hidup sebagai lelaki
brengsek yang telah meninggalkan Miranda sesudah perempuan itu berjasa besar
demi uang dan nama harum yang didambakan Hardi sejak berhelat dengan kuas,
kanvas, dan cat.
"Apa
yang tengah Bapak pikirkan?" tanya perempuan muda sambil menguaskan ujung
lipstik pada setangkup bibirnya. "Tampaknya Bapak tengah menanggung beban
hidup yang sangat berat?"
"Benar,
Nak." Wajah Hardi serupa langit malam tak berbintang. "Sebulan silam,
aku mendapatkan cobaan dari Tuhan. Isteri dan ketiga anakku tewas terbakar
bersama rumah dan sebagian besar isi di dalamnya."
"Bersabarlah,
Pak!" Perempuan muda mengalihkan pembicaraan. "Maaf, Pak!
Sesungguhnya Bapak ini mau pergi kemana?"
"Jakarta."
"Ke
tempat saudara?"
"Bukan!"
Hardi tak menjawab dengan jujur. "Aku hanya ingin jalan-jalan di Jakarta
sembari berusaha meringankan beban di benak kepala."
"Oh....
Begitu ya?" Perempuan muda meraih kotak kartu nama dari dalam dompet
kulitnya. Mengambil selembar kartu nama dari kotak itu. "Kalau berkenan,
mampirlah ke rumah, Pak! Ini kartu namaku."
Tanpa
membacanya, Hardi memasukkan kartu nama itu ke dalam saku bajunya yang kumal.
Sebelum Hardi mengucapkan kata terima kasih dari mulutnya yang bau tembakau,
perempuan muda telah beranjak dari kursinya. Pergi ke toilet untuk buang hajat
kecil.
***
Bagai
naga raksasa, kereta menyelasak di rimba dengan moncong bercahaya. Menembus
desa demi desa yang pulas tertidur dalam kelam. Melintasi kota demi kota yang
berjaga sembari memamerkan lampu warna-warni. Menuju Stasiun Senin yang masih
jauh dari pandangan mata.
Sebelum
lampu di dalam gerbong kereta padam, Hardi yang mulai bosan dengan perjalanan
jauh itu telah mendengkur seperti babi. Tak lagi memperhatikan tas parasut dan
lukisannya.Tak lagi merasakan kehangatan tubuh perempuan muda yang pulas
tertidur dengan menyandarkan kepala di pundaknya.
Di
Stasiun Senin, kereta berhenti. Sebagaimana penumpang lain, Hardi yang telah
terbangun itu turun dari kereta dengan lukisan dan tas parasutnya. Namun saat
sejenak duduk di kursi ruang tunggu, Hardi heran. "Kemana perginya
perempuan muda itu? Ah.... Masa bodoh!"
Matahari
setinggi tombak. Hardi keluar dari Stasiun Senin. Dengan Kopaja, Hardi pergi
menuju Kampung Rambutan. Tak ada tempat yang bakal dituju, selain rumah
Miranda. Sephianya yang pernah berjasa besar demi impian Hardi sebagai pelukis
kaya dan tersohor.
Di
halaman rumah yang suasananya sudah banyak berubah, Hardi melangkah ke pintu
coklat tua. Memencet tombol bel di samping kanan pintu yang kemudian terbuka
dari dalam. Bersama munculnya seorang perempuan tambun dan bawel. "Rumah
ini tak menerima pencari sumbangan! Sebaiknya Bapak mencari sumbangan ke lain
rumah."
"Aku
tak sedang mencari sumbangan," jawab Hardi dengan nada santun. "Aku
ingin bertemu dengan tuan di rumah ini. Miranda."
"Lancang
benar kamu, Pak!" Perempuan tambun yang bekerja sebagai babu di rumah itu
berlagak sok. "Sudah empat belas tahun, rumah ini menjadi milik sah Tuan
Hendra. Sesudah beliau membeli dari Miranda yang terlilit banyak hutang
itu."
Sebelum
Hardi menanyakan keberadaan Miranda, babu itu menutup pintu dan menguncinya
dari dalam. Tanpa dendam di hatinya, Hardi meninggalkan rumah itu. Menyusuri
tepian jalan beraspal yang padat dengan mobil-mobil mewah. Di samping ujung
kaki jembatan penyeberangan, Hardi menghentikan langkah. Duduk di bawah akasia
yang sedikit meredam terik matahari. Sambil mengisap sigaret terakhir, Hardi
membaca kartu nama dari perempuan muda yang pernah ditemuinya di kereta itu.
Tak tahu apa alasannya, Hardi ingin datang ke alamat yang tertulis di kartu
nama itu.
***
Di
halaman rumah perempuan muda, Hardi terperangah. Berdiri sebagaimana patung
batu setinggi tiga meter di halaman rumah bertembok marmer. Dalam hati, Hardi
berhasrat mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu berukir gaya Jepara itu.
Namun sebelum melangkah pergi, telinganya menangkap suara. "Akhirnya Bapak
sudi mampir di rumahku. Mari masuk!"
"Terima
kasih, Nak." Dengan tas parasut dan lukisannya, Hardi memasuki ruang tamu
rumah itu. Duduk di kursi kayu jati berukir yang berseberangan meja dengan
kursi perempuan muda itu. Meletakkan lukisan dan tas parasutnya di lantai
marmer warna jamrud. "Tak aku sangka. Bila Jakarta masih seperti dulu.
Masih ada orang baik seperti anak ini."
"Jangan
memujiku, Pak! Nanti kepalaku jadi besar." Perempuan muda tertawa renyah.
"Oh ya, Pak. Apakah Bapak sudah puas jalan-jalan di Jakarta?"
"Sesungguhnya
kedatanganku di Jakarta bukan sekadar ingin jalan-jalan. Tapi, ada tujuan
utamanya. Selain ingin bertemu dengan seseorang, aku ingin menjual lukisanku.
Satu-satunya barang yang masih aku miliki ini."
"Boleh
aku melihat lukisan itu?"
"Silakan!"
Hardi memberikan lukisan yang masih terbungkus kertas koran itu pada perempuan
muda. "Silakan dilihat, Nak!"
"Ya,
Pak." Perempuan muda membuka kertas koran yang melindungi lukisan itu.
Manakala menyaksikan lukisan tentang lelaki yang mempersembahkan domba di bawah
lingkaran cahaya berkilauan, ia sontak teringat kisah dari ibunya.
"Lukisan yang menakjubkan! Lukisan yang mengingatkanku tentang kisah cinta
Ibrahim pada Tuhan. Kisah yang selalu diceritakan mendiang Mama Miranda saat
aku masih tinggal di Kampung Rambutan. Lukisan ini mengingatkanku pada Mama
yang telah meninggal setahun silam karena kanker di rahimnya."
"Jadi...."
Lidah Hardi sejenak tercekat. "Anak adalah Santhi?
"Benar,
Pak." Santhi sekilas menatap tai lalat Hardi yang melekat di atas
bibirnya. "Ehm.... Bukankah Bapak adalah Om Hardi? Kawan Mama yang sering
mengantarkan dan menjemputku dari sekolah pada lima belas tahun silam?"
"Tak
salah, Nak." Hardi melelehkan air mata di wajahnya yang mulai berkeriput.
"Tak aku sangka, bila Tuhan kembali mempertemukanku dengan Nak Santhi. Aku
pun tak menyangka, bila kehidupan Nak Santhi akan sebaik ini."
"Aku
dapat hidup seperti ini, karena suamiku. Putra dari kolektor Hong Jian yang pernah
membeli lukisan Om Hardi itu."
"Syukurlah!
Aku turut bahagia."
"Terima
kasih." Santhi mengalihkan pandangannya pada lukisan lelaki yang
mempersembahkan domba. "Berapa harga lukisan ini, Om? Aku ingin
membelinya."
"Buat
Nak Santhi, lukisan itu tak aku jual. Ambil saja!"
"Tidak,
Om! Aku harus membelinya. Paling tidak sekadar ongkos ganti uang cat, kanvas,
dan bingkai. Sebentar, Om!" Santhi beranjak dari kursi. Selang beberapa
saat, Santhi kembali ke ruang tamu dengan membawa amplop besar berisi seratus
lembar uang ratusan ribu. "Terimalah uang yang tak seberapa ini, Om!"
"Terima
kasih." Dengan tangan gemetar, Hardi menerima amplop besar berisi uang
sepuluh juta dari Santhi. Memasukkannya amplop itu ke dalam tas parasut yang
berisi pakaian-pakaian kumal. "Karena tujuanku untuk menjual lukisan itu
telah terpenuhi, aku mohon pamit, Nak."
"Tinggallah
barang sehari atau dua hari di sini, Om!"
"Tidak,
Nak. Karena ada satu panggilan hidup yang belum aku penuhi."
"Baiklah,
Om! Selamat jalan!"
Seusai
saling berjabatan tangan, Hardi beranjak dari kursi. Meninggalkan Santhi yang
telah mengantarkannya sampai halaman rumah itu. Dengan Kopaja, Hardi menuju
Stasiun Senin. Dengan kereta senja, Hardi pulang ke Jogja. Setiba di Stasiun
Tugu pagi itu, Hardi bergetgas pulang ke kampungnya dengan taksi.
Dari
taksi yang berhenti di pertigaan jalan, Hardi melangkahkan kaki ke satu-satunya
masjid di kampungnya. Kepada Mat Toyib si ketua panitia korban, Hardi
menyerahkan seluruh uang hasil penjualan lukisannya. "Harap saudara Toyib
bersedia menerima sumbangan korbanku yang tak seberapa ini!"
"Maaf,
Pak Hardi! Bukankah Bapak sedang kesusahan sesudah rumah Bapak terbakar bersama
istri dan anak-anak? Sebaiknya uang sepuluh juta ini untuk membuat rumah
sederhana sebagai tempat tinggal Bapak."
"Tidak,
Saudara Toyib. Karena penyebab petaka yang telah menimpa diriku, lantaran aku
tak pernah berkorban selama mendapatkan rizeki berlimpah dari Tuhan. Semoga
dengan korbanku ini, aku mendaptkan ampunan-Nya."
Sebelum
Mat Toyib melontarkan sepatah kata, Hardi keburu keluar dari masjid.
Meninggalkan kampungnya dengan tas parasut di punggungnya.
Sepeninggal
Hardi, Mat Toyib dan orang-orang di dalam masjid itu hanya saling melemparkan
pandang. Mereka tampak heran dengan perilaku Hardi yang aneh itu. Namun di tahun-tahun
kemudian, mereka mendapatkan jawabannya. Hardi yang selalu mengirimkan uang
korban pada mereka setiap tahunnya itu telah menjadi pelukis kaya dan tersohor
di Jakarta.
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ab86b6c16835f78e140da82/lukisan-lelaki-yang-memersembahkan-domba#&gid=1&pid=1

No comments:
Post a Comment