MATAHARI
BIRU DI LANGIT LEBARAN
Sri
Wintala Achmad
BAGAIKAN
piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit timur. Langit yang
serupa atap kubah biru tak tergores awan. Sepasang burung prenjak berkicauan di
dahan pohon jambu yang tumbuh di halaman sudut rumah. Semilir angin serasa
mengabarkan kalau puasa telah menginjak hari terakhir. Hari di mana Den Lara
Hartati sibuk bekerja dengan pembantunya. Memersiapkan hidangan istimewa bagi
Pras. Anak semata wayangnya yang akan mudik beserta istri dan ketiga anaknya
dari Jakarta.
Selagi meracik bumbu
opor ayam di dapur, android Den Lara Hartati yang tergeletak di ranjang di
dalam kamarnya berdering. Sontak wanita berdarah biru berstatus janda itu
berlari ke kamarnya. Menerima calling dari menantunya, Hamidah. "Sampai di
mana perjalanan kalian?"
"Bandara,
Bu."
"Bukankah Pras
bilang, kalian akan datang dengan mobil pribadi?"
"Rencana semula
begitu. Karena Mas Pras masih sibuk dengan pekerjaannya, terpaksa kami datang
duluan dengan pesawat."
"Ya, sudah.
Kalian tak perlu naik taksi! Biar Jono menjemput kalian di situ." Den Lara
Hartati menutup calling dengan Hamidah. Seusai meletakkan ponsel di ranjang, ia
melangkah keluar ke halaman. Di mana, Jono -- sopir pribadinya -- tengah
mengecat pagar besi. "Jon! Tolong jemput Hamidah dan anak-anaknya di
bandara!"
"Bukankah Den
Ayu Hamidah akan datang bersama Den Bagus Pras dengan mobil pribadi, Den
Lara?"
"Pras masih
sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, Hamidah dan anak-anaknya datang duluan dengan
pesawat. Segeralah kamu jemput mereka di bandara!"
Jono meletakkan
kaleng cat dan kuasnya di teras rumah. Melangkah terburu menuju garasi. Dengan
sedan Nissan perak, lelaki lajang itu menuju bandara. Hanya dalam waktu
setengah jam, Nissan perak itu telah berada di antara deretan mobil-mobil di
halaman parkir Bandara Adisucipta, Yogya.
Menyaksikan Hamidah
dan ketiga anaknya yang tengah berdiri di antara tukang-tukang becak dan
sopir-sopir taksi, Jono keluar dari dalam mobil. Melangkah terburu menuju
tempat, di mana menantu Den Lara Hartati itu berdiri sembari menggendong anak
bungsunya. Bayinya yang masih berusia tujuh bulanan. "Maaf, Den Ayu!
Jemputnya agak terlambat."
"Tak apa,
Jon."
"Mari Den Ayu,
segera masuk ke mobil! Kasihan anak-anak."
"Ya, Jon."
Disertai Hamidah dan
anak-anaknya, Jono melangkahkan kakinya menuju mobil. Sesudah memasukkan
seluruh perbekalan Hamidah di dalam bagasi, ia masuk ke dalam mobil. Duduk di
jok kemudi di samping Hamidah yang tubuhnya menyerbakkan parfum beraroma
melati. Tak seberapa lama, mobil itu bergerak meninggalkan halaman parkir
bandara.
***
"Allahu akbar.
Allahu akbar. Allahu akbar. La ilaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar. Wa
lillahilhamd."
Suara takbir menggema
dari masjid dan langgar. Sepulang menyaksikan takbiran keliling; Den Lara
Hartati, Hamidah, dan anak-anaknya berkumpul di ruang tamu. Menikmati opor ayam
dan minuman orson rasa anggur. Melepas kangen dengan bersendau gurau.
Waktu melarutkan
malam. Den Lara Hartati dan kedua cucunya tertidur pulas di kamarnya. Sementara
Hamidah masih terjaga sembari menunggui bayinya. Kedua matanya teramat sulit
dipejamkan. Hatinya galau. Lantaran WA ucapan lebaran yang dikirimkan ke ketiga
android Pras belum bercentrang biru.
Dengan gerakan kasar,
Hamidah beranjak dari ranjang. Meninggalkan bayinya. Keluar dari dalam kamarnya
yang terasa pengap. Duduk di salah satu kursi kayu jati berukir di ruangan
tamu. Berulangkali menengok ponselnya. Hatinya kian galau. Manakala menjelang
subuh, WA ucapan lebarannya pada Pras itu belum juga terbaca.
Hamidah
bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Pras yang tak mudik bersamanya dengan
alasan sibuk dengan pekerjaannya itu hanya cara untuk dapat berselingkuh dengan
Nurlinda. Bendaharanya yang pernah mengirim WA jorok ke android Pras? Mungkin. Ya, mungkin.
Berulang kali,
Hamidah menghela napas panjang untuk melonggarkan dadanya yang terasa tersumpal
sebongkah batu. Sekalipun demikian, prasangka buruknya pada Pras yang kian
mengganggu pikirannya itu memicunya untuk berteriak lantang, "Dasar lelaki
brengsek!"
Den Lara Hartati yang
terbangun lantaran dikejutkan dengan teriakan Hamidah itu melangkah menuju
ruang tamu. Duduk di kursi di samping menantunya. "Ada apa denganmu,
Ndhuk? Siapa lelaki yang kau umpat
dengan kalimat sekasar itu? Apakah Pras?"
Hamidah menjatuhkan
wajahnya ke pangkuan Den Lara Hartati. "Maaf, Bu! Aku khilaf."
"Sabar ya,
Ndhuk! Kalau Pras belum dapat datang hari ini, mungkin masih sibuk dengan
pekerjaannya."
"Bukan karena
itu, Bu," jawab Hamidah sembari mengangkat wajahnya yang basah air mata.
"Lantas, karena
apa?"
"Ketiga android
Mas Prass dimatikan."
"Karenanya, kau
berpikir kalau Pras melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama?
Percayalah, Ndhuk! Pras itu, tipe lelaki setia pada seorang istri. Bertanggung
jawab pada keluarganya. Sebagaimana rama-nya. Swargi Kangmas Sudibya."
"Tapi...."
"Sudahlah!
Sekarang, ambillah air wudlu! Bersembahyanglah subuh! Sesudah mandi dan
sarapan, kita pergi ke alun-alun. Berjamaah sholat 'id."
Selepas Hamidah, Den
Lara Hartati meninggalkan ruang tamu. Memasuki ruang tidur menantunya.
Menggendong cucu bungsunya yang telah terbangun dengan selendang kawung.
Membawanya ke teras rumah. Mengembannya sembari menyenandungkan lagu Lela-Lela
Ledhung.
***
Alun-alun yang penuh
serakan sampah koran itu kembali lengang. Orang-orang berpakaian serba baru
yang semenjak fajar berjajar membentuk sap-sap untuk berjamaah sholat 'id itu
telah pulang ke rumahnya masing-masing. Demikian pula dengan Den Lara Hartati,
Hamidah, dan ketiga anaknya.
Di ruangan tamu, Den
Lara Hartati sibuk melayani tamu-tamunya yang datang untuk ber-khalal bil
khalal. Kedua anak Hamidah bermain petasan lombok rawit di halaman dengan
anak-anak sebayanya. Sementara Hamidah yang galau lantaran belum terkirimnya WA
ke android Pras itu duduk di ruangan keluarga sembari menggendong bayinya.
Sibuk dengan remote controldi depan televisi.
Hamidah serasa
tersambar petir di siang bolong, manakala menyimak breaking news dari salah
satu stasiun televisi: "Telah terjadi tabrakan maut BMW hitam dengan bis
trans Jakarta. Kedua penumpang BMW, Nurlinda dan lelaki yang tak diketahui
identitasnya tewas. Sementara, sopir melarikan diri...."
Tanpa mencermati
kedua mayat korban kecelakaan yang dimasukkan ke dalam ambulans, Hamidah
beranjak dari ruang keluarga. Melangkah gontai menuju ruang tamu. Di mana Den
Lara Hartati yang barusan mengantarkan tamu-tamunya sampai di depan pintu itu
duduk sendirian. "Aku harus segera pulang ke Jakarta, Bu. Mas Pras
kecelakan."
"Apa?" Den
Lara Hartati beranjak dari kursi. "Pras kecelakaan? Dari mana kamu
tahu?"
"Televisi,
Bu."
"Kalau begitu,
kita ke Jakarta sama-sama."
Hamidah melangkah ke
teras rumah untuk memanggil kedua anaknya yang masih bermain petasan dengan
anak-anak sebayanya. Dalam sekejap, Hamidah serupa patung hidup. Manakala kedua
matanya menangkap BMW hitam yang merangkak pelan menuju halaman rumah mertuanya
itu.
Hamidah terasa
terseret ke alam mimpi. Tak percaya bila
lelaki berpakaian perlente yang keluar dari BMW hitam dan diikuti kedua anaknya
itu adalah Pras. Ia pun tak percaya, bila lelaki yang mencium lembut kening bayinya
di gendongan itu adalah suaminya.
"Hei! Kenapa kau
memandang suamimu seperti itu, Dik?" tanya Pras penuh keheranan. "Apa
yang aneh dengan diriku?"
"Bukankah Mas
Pras mengalami kecelakaan di Jalan Salemba bersama Nurlinda?"
"Oh, jadi itu
yang menyebabkan Dik Hamidah memandangku seperti itu? Sudah! Sudah! Kita masuk
ke dalam dulu! Nanti aku jelaskan semuanya."
Disertai kedua
anaknya, Hamidah mengikuti langkah Pras ke dalam ruangan tamu. Sesudah sungkem
pada Den Lara Hartati, Pras menjelaskan segala permasalahannya di Jakarta.
"Siang kemarin, aku mengadakan rapat dengan Nurlinda dan Pramono stafku
itu di kantor perusahaan. Dalam rapat itu, aku meminta Nurlinda agar
mengembalikan uang perusahaan yang dihutangnya buat membayar THR pada seluruh
karyawan. Karena Nurlinda belum sanggup mengembalikan uang pinjaman yang
disalahgunakan untuk kredit BMW dan bersenang-senang dengan Pramono, terpaksa
aku mengambil tabungan dan melepaskan tiga androidku untuk membayar THR.
Sesudah persoalan itu beres, aku putuskan untuk mudik. Setiba di perbatasan
Yogja-Purworeja, aku mengetahui bahwa Nurlinda dan Pramono mengalamai
kecelakaan hingga tewas lewat televisi mobil itu."
Seusai penjelasan
Pras, Hamidah merasakan dadanya terbebas dari sebongkah batu yang menyumpalnya.
Merasakan bahwa Tuhan sang penabur keadilan di ladang kehidupan telah hadir di
ruang tamu di hari fitri itu. Kehadiran-Nya yang sejauh mata batin Hamidah
memandang itu serupa matahari biru di langit lebaran.
Sumber:
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran

No comments:
Post a Comment