Friday, March 30, 2018

ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN

ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN: LUKISAN LELAKI YANG MEMERSEMBAHKAN DOMBA Sri Wintala Achmad LELAKI paruh baya berpakaian lusuh menenteng lukisan terbungkus koran...

CERPEN

LUKISAN LELAKI YANG MEMERSEMBAHKAN DOMBA
Sri Wintala Achmad


LELAKI paruh baya berpakaian lusuh menenteng lukisan terbungkus koran dan menggendong tas parasut di punggungnya. Dialah, Hardi yang berjalan di trotoar di antara jubelan orang-orang akan berbelanja di mal atau supermarket. Menuju Stasiun Tugu yang telah dipadati calon penumpang kereta. Sesudah membeli tiket di loket, Hardi duduk di kursi ruang tunggu di samping perempuan muda.
Sambil mengisap sigaret, Hardi mencuri-curi pandang pada wajah perempuan muda yang mengingatkan wajah Miranda. Sephianya sewaktu Hardi menjalani hidup di Jakarta sebagai pelukis pada lima belas tahun silam. Jan
da beranak semata wayang yang telah banyak berjasa demi impiannya sebagai pelukis kaya dan tersohor.
Baru setengah batang segaret terbakar, Hardi beranjak dari ruang tunggu itu. Menginjak siusa sigaret dengan sepatu bututnya, sebelum Hardi memasuki gerbong ke tiga. Seusai meletakkan lukisan dan tas parasutnya di lantai kereta, Hardi duduk di kursi 3 A. Di samping perempuan muda itu.
Selepas senja, kereta meninggalkan Stasiun Tugu. Dari balik jendela kereta, pandangan Hardi diarahkan ke luar. Tampaklah lampu-lampu berkejaran seperti waktu yang terus menggerus usianya. Merampok miliknya yang berharga dalam hidupnya. Istri dan ketiga anaknya yang tewas terbakar bersama rumahnya.
Dalam diam, Hardi mengutuk dirinya sendiri. Hidup sebagai suami jahat yang telah mengkhianati cinta istrinya, berselingkuh dengan Miranda. Hidup sebagai lelaki brengsek yang telah meninggalkan Miranda sesudah perempuan itu berjasa besar demi uang dan nama harum yang didambakan Hardi sejak berhelat dengan kuas, kanvas, dan cat.
"Apa yang tengah Bapak pikirkan?" tanya perempuan muda sambil menguaskan ujung lipstik pada setangkup bibirnya. "Tampaknya Bapak tengah menanggung beban hidup yang sangat berat?"
"Benar, Nak." Wajah Hardi serupa langit malam tak berbintang. "Sebulan silam, aku mendapatkan cobaan dari Tuhan. Isteri dan ketiga anakku tewas terbakar bersama rumah dan sebagian besar isi di dalamnya."
"Bersabarlah, Pak!" Perempuan muda mengalihkan pembicaraan. "Maaf, Pak! Sesungguhnya Bapak ini mau pergi kemana?"
"Jakarta."
"Ke tempat saudara?"
"Bukan!" Hardi tak menjawab dengan jujur. "Aku hanya ingin jalan-jalan di Jakarta sembari berusaha meringankan beban di benak kepala."
"Oh.... Begitu ya?" Perempuan muda meraih kotak kartu nama dari dalam dompet kulitnya. Mengambil selembar kartu nama dari kotak itu. "Kalau berkenan, mampirlah ke rumah, Pak! Ini kartu namaku."
Tanpa membacanya, Hardi memasukkan kartu nama itu ke dalam saku bajunya yang kumal. Sebelum Hardi mengucapkan kata terima kasih dari mulutnya yang bau tembakau, perempuan muda telah beranjak dari kursinya. Pergi ke toilet untuk buang hajat kecil.
***

Bagai naga raksasa, kereta menyelasak di rimba dengan moncong bercahaya. Menembus desa demi desa yang pulas tertidur dalam kelam. Melintasi kota demi kota yang berjaga sembari memamerkan lampu warna-warni. Menuju Stasiun Senin yang masih jauh dari pandangan mata.
Sebelum lampu di dalam gerbong kereta padam, Hardi yang mulai bosan dengan perjalanan jauh itu telah mendengkur seperti babi. Tak lagi memperhatikan tas parasut dan lukisannya.Tak lagi merasakan kehangatan tubuh perempuan muda yang pulas tertidur dengan menyandarkan kepala di pundaknya.
Di Stasiun Senin, kereta berhenti. Sebagaimana penumpang lain, Hardi yang telah terbangun itu turun dari kereta dengan lukisan dan tas parasutnya. Namun saat sejenak duduk di kursi ruang tunggu, Hardi heran. "Kemana perginya perempuan muda itu? Ah.... Masa bodoh!"
Matahari setinggi tombak. Hardi keluar dari Stasiun Senin. Dengan Kopaja, Hardi pergi menuju Kampung Rambutan. Tak ada tempat yang bakal dituju, selain rumah Miranda. Sephianya yang pernah berjasa besar demi impian Hardi sebagai pelukis kaya dan tersohor.
Di halaman rumah yang suasananya sudah banyak berubah, Hardi melangkah ke pintu coklat tua. Memencet tombol bel di samping kanan pintu yang kemudian terbuka dari dalam. Bersama munculnya seorang perempuan tambun dan bawel. "Rumah ini tak menerima pencari sumbangan! Sebaiknya Bapak mencari sumbangan ke lain rumah."
"Aku tak sedang mencari sumbangan," jawab Hardi dengan nada santun. "Aku ingin bertemu dengan tuan di rumah ini. Miranda."
"Lancang benar kamu, Pak!" Perempuan tambun yang bekerja sebagai babu di rumah itu berlagak sok. "Sudah empat belas tahun, rumah ini menjadi milik sah Tuan Hendra. Sesudah beliau membeli dari Miranda yang terlilit banyak hutang itu."
Sebelum Hardi menanyakan keberadaan Miranda, babu itu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tanpa dendam di hatinya, Hardi meninggalkan rumah itu. Menyusuri tepian jalan beraspal yang padat dengan mobil-mobil mewah. Di samping ujung kaki jembatan penyeberangan, Hardi menghentikan langkah. Duduk di bawah akasia yang sedikit meredam terik matahari. Sambil mengisap sigaret terakhir, Hardi membaca kartu nama dari perempuan muda yang pernah ditemuinya di kereta itu. Tak tahu apa alasannya, Hardi ingin datang ke alamat yang tertulis di kartu nama itu.
***

Di halaman rumah perempuan muda, Hardi terperangah. Berdiri sebagaimana patung batu setinggi tiga meter di halaman rumah bertembok marmer. Dalam hati, Hardi berhasrat mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu berukir gaya Jepara itu. Namun sebelum melangkah pergi, telinganya menangkap suara. "Akhirnya Bapak sudi mampir di rumahku. Mari masuk!"
"Terima kasih, Nak." Dengan tas parasut dan lukisannya, Hardi memasuki ruang tamu rumah itu. Duduk di kursi kayu jati berukir yang berseberangan meja dengan kursi perempuan muda itu. Meletakkan lukisan dan tas parasutnya di lantai marmer warna jamrud. "Tak aku sangka. Bila Jakarta masih seperti dulu. Masih ada orang baik seperti anak ini."
"Jangan memujiku, Pak! Nanti kepalaku jadi besar." Perempuan muda tertawa renyah. "Oh ya, Pak. Apakah Bapak sudah puas jalan-jalan di Jakarta?"
"Sesungguhnya kedatanganku di Jakarta bukan sekadar ingin jalan-jalan. Tapi, ada tujuan utamanya. Selain ingin bertemu dengan seseorang, aku ingin menjual lukisanku. Satu-satunya barang yang masih aku miliki ini."
"Boleh aku melihat lukisan itu?"
"Silakan!" Hardi memberikan lukisan yang masih terbungkus kertas koran itu pada perempuan muda. "Silakan dilihat, Nak!"
"Ya, Pak." Perempuan muda membuka kertas koran yang melindungi lukisan itu. Manakala menyaksikan lukisan tentang lelaki yang mempersembahkan domba di bawah lingkaran cahaya berkilauan, ia sontak teringat kisah dari ibunya. "Lukisan yang menakjubkan! Lukisan yang mengingatkanku tentang kisah cinta Ibrahim pada Tuhan. Kisah yang selalu diceritakan mendiang Mama Miranda saat aku masih tinggal di Kampung Rambutan. Lukisan ini mengingatkanku pada Mama yang telah meninggal setahun silam karena kanker di rahimnya."
"Jadi...." Lidah Hardi sejenak tercekat. "Anak adalah Santhi?
"Benar, Pak." Santhi sekilas menatap tai lalat Hardi yang melekat di atas bibirnya. "Ehm.... Bukankah Bapak adalah Om Hardi? Kawan Mama yang sering mengantarkan dan menjemputku dari sekolah pada lima belas tahun silam?"
"Tak salah, Nak." Hardi melelehkan air mata di wajahnya yang mulai berkeriput. "Tak aku sangka, bila Tuhan kembali mempertemukanku dengan Nak Santhi. Aku pun tak menyangka, bila kehidupan Nak Santhi akan sebaik ini."
"Aku dapat hidup seperti ini, karena suamiku. Putra dari kolektor Hong Jian yang pernah membeli lukisan Om Hardi itu."
"Syukurlah! Aku turut bahagia."
"Terima kasih." Santhi mengalihkan pandangannya pada lukisan lelaki yang mempersembahkan domba. "Berapa harga lukisan ini, Om? Aku ingin membelinya."
"Buat Nak Santhi, lukisan itu tak aku jual. Ambil saja!"
"Tidak, Om! Aku harus membelinya. Paling tidak sekadar ongkos ganti uang cat, kanvas, dan bingkai. Sebentar, Om!" Santhi beranjak dari kursi. Selang beberapa saat, Santhi kembali ke ruang tamu dengan membawa amplop besar berisi seratus lembar uang ratusan ribu. "Terimalah uang yang tak seberapa ini, Om!"
"Terima kasih." Dengan tangan gemetar, Hardi menerima amplop besar berisi uang sepuluh juta dari Santhi. Memasukkannya amplop itu ke dalam tas parasut yang berisi pakaian-pakaian kumal. "Karena tujuanku untuk menjual lukisan itu telah terpenuhi, aku mohon pamit, Nak."
"Tinggallah barang sehari atau dua hari di sini, Om!"
"Tidak, Nak. Karena ada satu panggilan hidup yang belum aku penuhi."
"Baiklah, Om! Selamat jalan!"
Seusai saling berjabatan tangan, Hardi beranjak dari kursi. Meninggalkan Santhi yang telah mengantarkannya sampai halaman rumah itu. Dengan Kopaja, Hardi menuju Stasiun Senin. Dengan kereta senja, Hardi pulang ke Jogja. Setiba di Stasiun Tugu pagi itu, Hardi bergetgas pulang ke kampungnya dengan taksi.
Dari taksi yang berhenti di pertigaan jalan, Hardi melangkahkan kaki ke satu-satunya masjid di kampungnya. Kepada Mat Toyib si ketua panitia korban, Hardi menyerahkan seluruh uang hasil penjualan lukisannya. "Harap saudara Toyib bersedia menerima sumbangan korbanku yang tak seberapa ini!"
"Maaf, Pak Hardi! Bukankah Bapak sedang kesusahan sesudah rumah Bapak terbakar bersama istri dan anak-anak? Sebaiknya uang sepuluh juta ini untuk membuat rumah sederhana sebagai tempat tinggal Bapak."
"Tidak, Saudara Toyib. Karena penyebab petaka yang telah menimpa diriku, lantaran aku tak pernah berkorban selama mendapatkan rizeki berlimpah dari Tuhan. Semoga dengan korbanku ini, aku mendaptkan ampunan-Nya."
Sebelum Mat Toyib melontarkan sepatah kata, Hardi keburu keluar dari masjid. Meninggalkan kampungnya dengan tas parasut di punggungnya.
Sepeninggal Hardi, Mat Toyib dan orang-orang di dalam masjid itu hanya saling melemparkan pandang. Mereka tampak heran dengan perilaku Hardi yang aneh itu. Namun di tahun-tahun kemudian, mereka mendapatkan jawabannya. Hardi yang selalu mengirimkan uang korban pada mereka setiap tahunnya itu telah menjadi pelukis kaya dan tersohor di Jakarta.

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ab86b6c16835f78e140da82/lukisan-lelaki-yang-memersembahkan-domba#&gid=1&pid=1


ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN

ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN: MATAHARI BIRU DI LANGIT LEBARAN Sri Wintala Achmad             BAGAIKAN piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit ...

CERPEN

MATAHARI BIRU DI LANGIT LEBARAN
Sri Wintala Achmad
           

BAGAIKAN piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit timur. Langit yang serupa atap kubah biru tak tergores awan. Sepasang burung prenjak berkicauan di dahan pohon jambu yang tumbuh di halaman sudut rumah. Semilir angin serasa mengabarkan kalau puasa telah menginjak hari terakhir. Hari di mana Den Lara Hartati sibuk bekerja dengan pembantunya. Memersiapkan hidangan istimewa bagi Pras. Anak semata wayangnya yang akan mudik beserta istri dan ketiga anaknya dari Jakarta.
Selagi meracik bumbu opor ayam di dapur, android Den Lara Hartati yang tergeletak di ranjang di dalam kamarnya berdering. Sontak wanita berdarah biru berstatus janda itu berlari ke kamarnya. Menerima calling dari menantunya, Hamidah. "Sampai di mana perjalanan kalian?"
"Bandara, Bu."        
"Bukankah Pras bilang, kalian akan datang dengan mobil pribadi?"
"Rencana semula begitu. Karena Mas Pras masih sibuk dengan pekerjaannya, terpaksa kami datang duluan dengan pesawat."
"Ya, sudah. Kalian tak perlu naik taksi! Biar Jono menjemput kalian di situ." Den Lara Hartati menutup calling dengan Hamidah. Seusai meletakkan ponsel di ranjang, ia melangkah keluar ke halaman. Di mana, Jono -- sopir pribadinya -- tengah mengecat pagar besi. "Jon! Tolong jemput Hamidah dan anak-anaknya di bandara!"
"Bukankah Den Ayu Hamidah akan datang bersama Den Bagus Pras dengan mobil pribadi, Den Lara?"
"Pras masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, Hamidah dan anak-anaknya datang duluan dengan pesawat. Segeralah kamu jemput mereka di bandara!"
Jono meletakkan kaleng cat dan kuasnya di teras rumah. Melangkah terburu menuju garasi. Dengan sedan Nissan perak, lelaki lajang itu menuju bandara. Hanya dalam waktu setengah jam, Nissan perak itu telah berada di antara deretan mobil-mobil di halaman parkir Bandara Adisucipta, Yogya.
Menyaksikan Hamidah dan ketiga anaknya yang tengah berdiri di antara tukang-tukang becak dan sopir-sopir taksi, Jono keluar dari dalam mobil. Melangkah terburu menuju tempat, di mana menantu Den Lara Hartati itu berdiri sembari menggendong anak bungsunya. Bayinya yang masih berusia tujuh bulanan. "Maaf, Den Ayu! Jemputnya agak terlambat."
"Tak apa, Jon."
"Mari Den Ayu, segera masuk ke mobil! Kasihan anak-anak."
"Ya, Jon."
Disertai Hamidah dan anak-anaknya, Jono melangkahkan kakinya menuju mobil. Sesudah memasukkan seluruh perbekalan Hamidah di dalam bagasi, ia masuk ke dalam mobil. Duduk di jok kemudi di samping Hamidah yang tubuhnya menyerbakkan parfum beraroma melati. Tak seberapa lama, mobil itu bergerak meninggalkan halaman parkir bandara.
***

"Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. La ilaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar. Wa lillahilhamd."
Suara takbir menggema dari masjid dan langgar. Sepulang menyaksikan takbiran keliling; Den Lara Hartati, Hamidah, dan anak-anaknya berkumpul di ruang tamu. Menikmati opor ayam dan minuman orson rasa anggur. Melepas kangen dengan bersendau gurau.
Waktu melarutkan malam. Den Lara Hartati dan kedua cucunya tertidur pulas di kamarnya. Sementara Hamidah masih terjaga sembari menunggui bayinya. Kedua matanya teramat sulit dipejamkan. Hatinya galau. Lantaran WA ucapan lebaran yang dikirimkan ke ketiga android Pras belum bercentrang biru.
Dengan gerakan kasar, Hamidah beranjak dari ranjang. Meninggalkan bayinya. Keluar dari dalam kamarnya yang terasa pengap. Duduk di salah satu kursi kayu jati berukir di ruangan tamu. Berulangkali menengok ponselnya. Hatinya kian galau. Manakala menjelang subuh, WA ucapan lebarannya pada Pras itu belum juga terbaca.
Hamidah bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Pras yang tak mudik bersamanya dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya itu hanya cara untuk dapat berselingkuh dengan Nurlinda. Bendaharanya yang pernah mengirim WA jorok ke android Pras?  Mungkin. Ya, mungkin.
Berulang kali, Hamidah menghela napas panjang untuk melonggarkan dadanya yang terasa tersumpal sebongkah batu. Sekalipun demikian, prasangka buruknya pada Pras yang kian mengganggu pikirannya itu memicunya untuk berteriak lantang, "Dasar lelaki brengsek!"
Den Lara Hartati yang terbangun lantaran dikejutkan dengan teriakan Hamidah itu melangkah menuju ruang tamu. Duduk di kursi di samping menantunya. "Ada apa denganmu, Ndhuk?  Siapa lelaki yang kau umpat dengan kalimat sekasar itu? Apakah Pras?"
Hamidah menjatuhkan wajahnya ke pangkuan Den Lara Hartati. "Maaf, Bu! Aku khilaf."
"Sabar ya, Ndhuk! Kalau Pras belum dapat datang hari ini, mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya."
"Bukan karena itu, Bu," jawab Hamidah sembari mengangkat wajahnya yang basah air mata.
"Lantas, karena apa?"
"Ketiga android Mas Prass dimatikan."
"Karenanya, kau berpikir kalau Pras melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama? Percayalah, Ndhuk! Pras itu, tipe lelaki setia pada seorang istri. Bertanggung jawab pada keluarganya. Sebagaimana rama-nya. Swargi Kangmas Sudibya."
"Tapi...."
"Sudahlah! Sekarang, ambillah air wudlu! Bersembahyanglah subuh! Sesudah mandi dan sarapan, kita pergi ke alun-alun. Berjamaah sholat 'id."
Selepas Hamidah, Den Lara Hartati meninggalkan ruang tamu. Memasuki ruang tidur menantunya. Menggendong cucu bungsunya yang telah terbangun dengan selendang kawung. Membawanya ke teras rumah. Mengembannya sembari menyenandungkan lagu Lela-Lela Ledhung.
***

Alun-alun yang penuh serakan sampah koran itu kembali lengang. Orang-orang berpakaian serba baru yang semenjak fajar berjajar membentuk sap-sap untuk berjamaah sholat 'id itu telah pulang ke rumahnya masing-masing. Demikian pula dengan Den Lara Hartati, Hamidah, dan ketiga anaknya.
Di ruangan tamu, Den Lara Hartati sibuk melayani tamu-tamunya yang datang untuk ber-khalal bil khalal. Kedua anak Hamidah bermain petasan lombok rawit di halaman dengan anak-anak sebayanya. Sementara Hamidah yang galau lantaran belum terkirimnya WA ke android Pras itu duduk di ruangan keluarga sembari menggendong bayinya. Sibuk dengan remote controldi depan televisi.
Hamidah serasa tersambar petir di siang bolong, manakala menyimak breaking news dari salah satu stasiun televisi: "Telah terjadi tabrakan maut BMW hitam dengan bis trans Jakarta. Kedua penumpang BMW, Nurlinda dan lelaki yang tak diketahui identitasnya tewas. Sementara, sopir melarikan diri...."
Tanpa mencermati kedua mayat korban kecelakaan yang dimasukkan ke dalam ambulans, Hamidah beranjak dari ruang keluarga. Melangkah gontai menuju ruang tamu. Di mana Den Lara Hartati yang barusan mengantarkan tamu-tamunya sampai di depan pintu itu duduk sendirian. "Aku harus segera pulang ke Jakarta, Bu. Mas Pras kecelakan."
"Apa?" Den Lara Hartati beranjak dari kursi. "Pras kecelakaan? Dari mana kamu tahu?"
"Televisi, Bu."
"Kalau begitu, kita ke Jakarta sama-sama."
Hamidah melangkah ke teras rumah untuk memanggil kedua anaknya yang masih bermain petasan dengan anak-anak sebayanya. Dalam sekejap, Hamidah serupa patung hidup. Manakala kedua matanya menangkap BMW hitam yang merangkak pelan menuju halaman rumah mertuanya itu.
Hamidah terasa terseret ke alam mimpi. Tak  percaya bila lelaki berpakaian perlente yang keluar dari BMW hitam dan diikuti kedua anaknya itu adalah Pras. Ia pun tak percaya, bila lelaki yang mencium lembut kening bayinya di gendongan itu adalah suaminya.
"Hei! Kenapa kau memandang suamimu seperti itu, Dik?" tanya Pras penuh keheranan. "Apa yang aneh dengan diriku?"
"Bukankah Mas Pras mengalami kecelakaan di Jalan Salemba bersama Nurlinda?"
"Oh, jadi itu yang menyebabkan Dik Hamidah memandangku seperti itu? Sudah! Sudah! Kita masuk ke dalam dulu! Nanti aku jelaskan semuanya."
Disertai kedua anaknya, Hamidah mengikuti langkah Pras ke dalam ruangan tamu. Sesudah sungkem pada Den Lara Hartati, Pras menjelaskan segala permasalahannya di Jakarta. "Siang kemarin, aku mengadakan rapat dengan Nurlinda dan Pramono stafku itu di kantor perusahaan. Dalam rapat itu, aku meminta Nurlinda agar mengembalikan uang perusahaan yang dihutangnya buat membayar THR pada seluruh karyawan. Karena Nurlinda belum sanggup mengembalikan uang pinjaman yang disalahgunakan untuk kredit BMW dan bersenang-senang dengan Pramono, terpaksa aku mengambil tabungan dan melepaskan tiga androidku untuk membayar THR. Sesudah persoalan itu beres, aku putuskan untuk mudik. Setiba di perbatasan Yogja-Purworeja, aku mengetahui bahwa Nurlinda dan Pramono mengalamai kecelakaan hingga tewas lewat televisi mobil itu."
Seusai penjelasan Pras, Hamidah merasakan dadanya terbebas dari sebongkah batu yang menyumpalnya. Merasakan bahwa Tuhan sang penabur keadilan di ladang kehidupan telah hadir di ruang tamu di hari fitri itu. Kehadiran-Nya yang sejauh mata batin Hamidah memandang itu serupa matahari biru di langit lebaran.

Sumber:
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran

ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: Trik Cantik Mencipta "Prosa Lirik"

ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: Trik Cantik Mencipta "Prosa Lirik" : BARANGKALI kita pernah mendengar atau membaca salah satu karya sast...