Friday, March 30, 2018
ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN
ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN: LUKISAN LELAKI YANG MEMERSEMBAHKAN DOMBA Sri Wintala Achmad LELAKI paruh baya berpakaian lusuh menenteng lukisan terbungkus koran...
CERPEN
LUKISAN
LELAKI YANG MEMERSEMBAHKAN DOMBA
Sri Wintala Achmad
LELAKI paruh baya
berpakaian lusuh menenteng lukisan terbungkus koran dan menggendong tas parasut
di punggungnya. Dialah, Hardi yang berjalan di trotoar di antara jubelan
orang-orang akan berbelanja di mal atau supermarket. Menuju Stasiun Tugu yang
telah dipadati calon penumpang kereta. Sesudah membeli tiket di loket, Hardi
duduk di kursi ruang tunggu di samping perempuan muda.
Sambil
mengisap sigaret, Hardi mencuri-curi pandang pada wajah perempuan muda yang
mengingatkan wajah Miranda. Sephianya sewaktu Hardi menjalani hidup di Jakarta sebagai
pelukis pada lima belas tahun silam. Jan
Baru
setengah batang segaret terbakar, Hardi beranjak dari ruang tunggu itu.
Menginjak siusa sigaret dengan sepatu bututnya, sebelum Hardi memasuki gerbong
ke tiga. Seusai meletakkan lukisan dan tas parasutnya di lantai kereta, Hardi
duduk di kursi 3 A. Di samping perempuan muda itu.
Selepas
senja, kereta meninggalkan Stasiun Tugu. Dari balik jendela kereta, pandangan
Hardi diarahkan ke luar. Tampaklah lampu-lampu berkejaran seperti waktu yang
terus menggerus usianya. Merampok miliknya yang berharga dalam hidupnya. Istri
dan ketiga anaknya yang tewas terbakar bersama rumahnya.
Dalam
diam, Hardi mengutuk dirinya sendiri. Hidup sebagai suami jahat yang telah
mengkhianati cinta istrinya, berselingkuh dengan Miranda. Hidup sebagai lelaki
brengsek yang telah meninggalkan Miranda sesudah perempuan itu berjasa besar
demi uang dan nama harum yang didambakan Hardi sejak berhelat dengan kuas,
kanvas, dan cat.
"Apa
yang tengah Bapak pikirkan?" tanya perempuan muda sambil menguaskan ujung
lipstik pada setangkup bibirnya. "Tampaknya Bapak tengah menanggung beban
hidup yang sangat berat?"
"Benar,
Nak." Wajah Hardi serupa langit malam tak berbintang. "Sebulan silam,
aku mendapatkan cobaan dari Tuhan. Isteri dan ketiga anakku tewas terbakar
bersama rumah dan sebagian besar isi di dalamnya."
"Bersabarlah,
Pak!" Perempuan muda mengalihkan pembicaraan. "Maaf, Pak!
Sesungguhnya Bapak ini mau pergi kemana?"
"Jakarta."
"Ke
tempat saudara?"
"Bukan!"
Hardi tak menjawab dengan jujur. "Aku hanya ingin jalan-jalan di Jakarta
sembari berusaha meringankan beban di benak kepala."
"Oh....
Begitu ya?" Perempuan muda meraih kotak kartu nama dari dalam dompet
kulitnya. Mengambil selembar kartu nama dari kotak itu. "Kalau berkenan,
mampirlah ke rumah, Pak! Ini kartu namaku."
Tanpa
membacanya, Hardi memasukkan kartu nama itu ke dalam saku bajunya yang kumal.
Sebelum Hardi mengucapkan kata terima kasih dari mulutnya yang bau tembakau,
perempuan muda telah beranjak dari kursinya. Pergi ke toilet untuk buang hajat
kecil.
***
Bagai
naga raksasa, kereta menyelasak di rimba dengan moncong bercahaya. Menembus
desa demi desa yang pulas tertidur dalam kelam. Melintasi kota demi kota yang
berjaga sembari memamerkan lampu warna-warni. Menuju Stasiun Senin yang masih
jauh dari pandangan mata.
Sebelum
lampu di dalam gerbong kereta padam, Hardi yang mulai bosan dengan perjalanan
jauh itu telah mendengkur seperti babi. Tak lagi memperhatikan tas parasut dan
lukisannya.Tak lagi merasakan kehangatan tubuh perempuan muda yang pulas
tertidur dengan menyandarkan kepala di pundaknya.
Di
Stasiun Senin, kereta berhenti. Sebagaimana penumpang lain, Hardi yang telah
terbangun itu turun dari kereta dengan lukisan dan tas parasutnya. Namun saat
sejenak duduk di kursi ruang tunggu, Hardi heran. "Kemana perginya
perempuan muda itu? Ah.... Masa bodoh!"
Matahari
setinggi tombak. Hardi keluar dari Stasiun Senin. Dengan Kopaja, Hardi pergi
menuju Kampung Rambutan. Tak ada tempat yang bakal dituju, selain rumah
Miranda. Sephianya yang pernah berjasa besar demi impian Hardi sebagai pelukis
kaya dan tersohor.
Di
halaman rumah yang suasananya sudah banyak berubah, Hardi melangkah ke pintu
coklat tua. Memencet tombol bel di samping kanan pintu yang kemudian terbuka
dari dalam. Bersama munculnya seorang perempuan tambun dan bawel. "Rumah
ini tak menerima pencari sumbangan! Sebaiknya Bapak mencari sumbangan ke lain
rumah."
"Aku
tak sedang mencari sumbangan," jawab Hardi dengan nada santun. "Aku
ingin bertemu dengan tuan di rumah ini. Miranda."
"Lancang
benar kamu, Pak!" Perempuan tambun yang bekerja sebagai babu di rumah itu
berlagak sok. "Sudah empat belas tahun, rumah ini menjadi milik sah Tuan
Hendra. Sesudah beliau membeli dari Miranda yang terlilit banyak hutang
itu."
Sebelum
Hardi menanyakan keberadaan Miranda, babu itu menutup pintu dan menguncinya
dari dalam. Tanpa dendam di hatinya, Hardi meninggalkan rumah itu. Menyusuri
tepian jalan beraspal yang padat dengan mobil-mobil mewah. Di samping ujung
kaki jembatan penyeberangan, Hardi menghentikan langkah. Duduk di bawah akasia
yang sedikit meredam terik matahari. Sambil mengisap sigaret terakhir, Hardi
membaca kartu nama dari perempuan muda yang pernah ditemuinya di kereta itu.
Tak tahu apa alasannya, Hardi ingin datang ke alamat yang tertulis di kartu
nama itu.
***
Di
halaman rumah perempuan muda, Hardi terperangah. Berdiri sebagaimana patung
batu setinggi tiga meter di halaman rumah bertembok marmer. Dalam hati, Hardi
berhasrat mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu berukir gaya Jepara itu.
Namun sebelum melangkah pergi, telinganya menangkap suara. "Akhirnya Bapak
sudi mampir di rumahku. Mari masuk!"
"Terima
kasih, Nak." Dengan tas parasut dan lukisannya, Hardi memasuki ruang tamu
rumah itu. Duduk di kursi kayu jati berukir yang berseberangan meja dengan
kursi perempuan muda itu. Meletakkan lukisan dan tas parasutnya di lantai
marmer warna jamrud. "Tak aku sangka. Bila Jakarta masih seperti dulu.
Masih ada orang baik seperti anak ini."
"Jangan
memujiku, Pak! Nanti kepalaku jadi besar." Perempuan muda tertawa renyah.
"Oh ya, Pak. Apakah Bapak sudah puas jalan-jalan di Jakarta?"
"Sesungguhnya
kedatanganku di Jakarta bukan sekadar ingin jalan-jalan. Tapi, ada tujuan
utamanya. Selain ingin bertemu dengan seseorang, aku ingin menjual lukisanku.
Satu-satunya barang yang masih aku miliki ini."
"Boleh
aku melihat lukisan itu?"
"Silakan!"
Hardi memberikan lukisan yang masih terbungkus kertas koran itu pada perempuan
muda. "Silakan dilihat, Nak!"
"Ya,
Pak." Perempuan muda membuka kertas koran yang melindungi lukisan itu.
Manakala menyaksikan lukisan tentang lelaki yang mempersembahkan domba di bawah
lingkaran cahaya berkilauan, ia sontak teringat kisah dari ibunya.
"Lukisan yang menakjubkan! Lukisan yang mengingatkanku tentang kisah cinta
Ibrahim pada Tuhan. Kisah yang selalu diceritakan mendiang Mama Miranda saat
aku masih tinggal di Kampung Rambutan. Lukisan ini mengingatkanku pada Mama
yang telah meninggal setahun silam karena kanker di rahimnya."
"Jadi...."
Lidah Hardi sejenak tercekat. "Anak adalah Santhi?
"Benar,
Pak." Santhi sekilas menatap tai lalat Hardi yang melekat di atas
bibirnya. "Ehm.... Bukankah Bapak adalah Om Hardi? Kawan Mama yang sering
mengantarkan dan menjemputku dari sekolah pada lima belas tahun silam?"
"Tak
salah, Nak." Hardi melelehkan air mata di wajahnya yang mulai berkeriput.
"Tak aku sangka, bila Tuhan kembali mempertemukanku dengan Nak Santhi. Aku
pun tak menyangka, bila kehidupan Nak Santhi akan sebaik ini."
"Aku
dapat hidup seperti ini, karena suamiku. Putra dari kolektor Hong Jian yang pernah
membeli lukisan Om Hardi itu."
"Syukurlah!
Aku turut bahagia."
"Terima
kasih." Santhi mengalihkan pandangannya pada lukisan lelaki yang
mempersembahkan domba. "Berapa harga lukisan ini, Om? Aku ingin
membelinya."
"Buat
Nak Santhi, lukisan itu tak aku jual. Ambil saja!"
"Tidak,
Om! Aku harus membelinya. Paling tidak sekadar ongkos ganti uang cat, kanvas,
dan bingkai. Sebentar, Om!" Santhi beranjak dari kursi. Selang beberapa
saat, Santhi kembali ke ruang tamu dengan membawa amplop besar berisi seratus
lembar uang ratusan ribu. "Terimalah uang yang tak seberapa ini, Om!"
"Terima
kasih." Dengan tangan gemetar, Hardi menerima amplop besar berisi uang
sepuluh juta dari Santhi. Memasukkannya amplop itu ke dalam tas parasut yang
berisi pakaian-pakaian kumal. "Karena tujuanku untuk menjual lukisan itu
telah terpenuhi, aku mohon pamit, Nak."
"Tinggallah
barang sehari atau dua hari di sini, Om!"
"Tidak,
Nak. Karena ada satu panggilan hidup yang belum aku penuhi."
"Baiklah,
Om! Selamat jalan!"
Seusai
saling berjabatan tangan, Hardi beranjak dari kursi. Meninggalkan Santhi yang
telah mengantarkannya sampai halaman rumah itu. Dengan Kopaja, Hardi menuju
Stasiun Senin. Dengan kereta senja, Hardi pulang ke Jogja. Setiba di Stasiun
Tugu pagi itu, Hardi bergetgas pulang ke kampungnya dengan taksi.
Dari
taksi yang berhenti di pertigaan jalan, Hardi melangkahkan kaki ke satu-satunya
masjid di kampungnya. Kepada Mat Toyib si ketua panitia korban, Hardi
menyerahkan seluruh uang hasil penjualan lukisannya. "Harap saudara Toyib
bersedia menerima sumbangan korbanku yang tak seberapa ini!"
"Maaf,
Pak Hardi! Bukankah Bapak sedang kesusahan sesudah rumah Bapak terbakar bersama
istri dan anak-anak? Sebaiknya uang sepuluh juta ini untuk membuat rumah
sederhana sebagai tempat tinggal Bapak."
"Tidak,
Saudara Toyib. Karena penyebab petaka yang telah menimpa diriku, lantaran aku
tak pernah berkorban selama mendapatkan rizeki berlimpah dari Tuhan. Semoga
dengan korbanku ini, aku mendaptkan ampunan-Nya."
Sebelum
Mat Toyib melontarkan sepatah kata, Hardi keburu keluar dari masjid.
Meninggalkan kampungnya dengan tas parasut di punggungnya.
Sepeninggal
Hardi, Mat Toyib dan orang-orang di dalam masjid itu hanya saling melemparkan
pandang. Mereka tampak heran dengan perilaku Hardi yang aneh itu. Namun di tahun-tahun
kemudian, mereka mendapatkan jawabannya. Hardi yang selalu mengirimkan uang
korban pada mereka setiap tahunnya itu telah menjadi pelukis kaya dan tersohor
di Jakarta.
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ab86b6c16835f78e140da82/lukisan-lelaki-yang-memersembahkan-domba#&gid=1&pid=1
ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN
ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: CERPEN: MATAHARI BIRU DI LANGIT LEBARAN Sri Wintala Achmad BAGAIKAN piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit ...
CERPEN
MATAHARI
BIRU DI LANGIT LEBARAN
Sri
Wintala Achmad
BAGAIKAN
piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit timur. Langit yang
serupa atap kubah biru tak tergores awan. Sepasang burung prenjak berkicauan di
dahan pohon jambu yang tumbuh di halaman sudut rumah. Semilir angin serasa
mengabarkan kalau puasa telah menginjak hari terakhir. Hari di mana Den Lara
Hartati sibuk bekerja dengan pembantunya. Memersiapkan hidangan istimewa bagi
Pras. Anak semata wayangnya yang akan mudik beserta istri dan ketiga anaknya
dari Jakarta.
Selagi meracik bumbu
opor ayam di dapur, android Den Lara Hartati yang tergeletak di ranjang di
dalam kamarnya berdering. Sontak wanita berdarah biru berstatus janda itu
berlari ke kamarnya. Menerima calling dari menantunya, Hamidah. "Sampai di
mana perjalanan kalian?"
"Bandara,
Bu."
"Bukankah Pras
bilang, kalian akan datang dengan mobil pribadi?"
"Rencana semula
begitu. Karena Mas Pras masih sibuk dengan pekerjaannya, terpaksa kami datang
duluan dengan pesawat."
"Ya, sudah.
Kalian tak perlu naik taksi! Biar Jono menjemput kalian di situ." Den Lara
Hartati menutup calling dengan Hamidah. Seusai meletakkan ponsel di ranjang, ia
melangkah keluar ke halaman. Di mana, Jono -- sopir pribadinya -- tengah
mengecat pagar besi. "Jon! Tolong jemput Hamidah dan anak-anaknya di
bandara!"
"Bukankah Den
Ayu Hamidah akan datang bersama Den Bagus Pras dengan mobil pribadi, Den
Lara?"
"Pras masih
sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, Hamidah dan anak-anaknya datang duluan dengan
pesawat. Segeralah kamu jemput mereka di bandara!"
Jono meletakkan
kaleng cat dan kuasnya di teras rumah. Melangkah terburu menuju garasi. Dengan
sedan Nissan perak, lelaki lajang itu menuju bandara. Hanya dalam waktu
setengah jam, Nissan perak itu telah berada di antara deretan mobil-mobil di
halaman parkir Bandara Adisucipta, Yogya.
Menyaksikan Hamidah
dan ketiga anaknya yang tengah berdiri di antara tukang-tukang becak dan
sopir-sopir taksi, Jono keluar dari dalam mobil. Melangkah terburu menuju
tempat, di mana menantu Den Lara Hartati itu berdiri sembari menggendong anak
bungsunya. Bayinya yang masih berusia tujuh bulanan. "Maaf, Den Ayu!
Jemputnya agak terlambat."
"Tak apa,
Jon."
"Mari Den Ayu,
segera masuk ke mobil! Kasihan anak-anak."
"Ya, Jon."
Disertai Hamidah dan
anak-anaknya, Jono melangkahkan kakinya menuju mobil. Sesudah memasukkan
seluruh perbekalan Hamidah di dalam bagasi, ia masuk ke dalam mobil. Duduk di
jok kemudi di samping Hamidah yang tubuhnya menyerbakkan parfum beraroma
melati. Tak seberapa lama, mobil itu bergerak meninggalkan halaman parkir
bandara.
***
"Allahu akbar.
Allahu akbar. Allahu akbar. La ilaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar. Wa
lillahilhamd."
Suara takbir menggema
dari masjid dan langgar. Sepulang menyaksikan takbiran keliling; Den Lara
Hartati, Hamidah, dan anak-anaknya berkumpul di ruang tamu. Menikmati opor ayam
dan minuman orson rasa anggur. Melepas kangen dengan bersendau gurau.
Waktu melarutkan
malam. Den Lara Hartati dan kedua cucunya tertidur pulas di kamarnya. Sementara
Hamidah masih terjaga sembari menunggui bayinya. Kedua matanya teramat sulit
dipejamkan. Hatinya galau. Lantaran WA ucapan lebaran yang dikirimkan ke ketiga
android Pras belum bercentrang biru.
Dengan gerakan kasar,
Hamidah beranjak dari ranjang. Meninggalkan bayinya. Keluar dari dalam kamarnya
yang terasa pengap. Duduk di salah satu kursi kayu jati berukir di ruangan
tamu. Berulangkali menengok ponselnya. Hatinya kian galau. Manakala menjelang
subuh, WA ucapan lebarannya pada Pras itu belum juga terbaca.
Hamidah
bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Pras yang tak mudik bersamanya dengan
alasan sibuk dengan pekerjaannya itu hanya cara untuk dapat berselingkuh dengan
Nurlinda. Bendaharanya yang pernah mengirim WA jorok ke android Pras? Mungkin. Ya, mungkin.
Berulang kali,
Hamidah menghela napas panjang untuk melonggarkan dadanya yang terasa tersumpal
sebongkah batu. Sekalipun demikian, prasangka buruknya pada Pras yang kian
mengganggu pikirannya itu memicunya untuk berteriak lantang, "Dasar lelaki
brengsek!"
Den Lara Hartati yang
terbangun lantaran dikejutkan dengan teriakan Hamidah itu melangkah menuju
ruang tamu. Duduk di kursi di samping menantunya. "Ada apa denganmu,
Ndhuk? Siapa lelaki yang kau umpat
dengan kalimat sekasar itu? Apakah Pras?"
Hamidah menjatuhkan
wajahnya ke pangkuan Den Lara Hartati. "Maaf, Bu! Aku khilaf."
"Sabar ya,
Ndhuk! Kalau Pras belum dapat datang hari ini, mungkin masih sibuk dengan
pekerjaannya."
"Bukan karena
itu, Bu," jawab Hamidah sembari mengangkat wajahnya yang basah air mata.
"Lantas, karena
apa?"
"Ketiga android
Mas Prass dimatikan."
"Karenanya, kau
berpikir kalau Pras melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama?
Percayalah, Ndhuk! Pras itu, tipe lelaki setia pada seorang istri. Bertanggung
jawab pada keluarganya. Sebagaimana rama-nya. Swargi Kangmas Sudibya."
"Tapi...."
"Sudahlah!
Sekarang, ambillah air wudlu! Bersembahyanglah subuh! Sesudah mandi dan
sarapan, kita pergi ke alun-alun. Berjamaah sholat 'id."
Selepas Hamidah, Den
Lara Hartati meninggalkan ruang tamu. Memasuki ruang tidur menantunya.
Menggendong cucu bungsunya yang telah terbangun dengan selendang kawung.
Membawanya ke teras rumah. Mengembannya sembari menyenandungkan lagu Lela-Lela
Ledhung.
***
Alun-alun yang penuh
serakan sampah koran itu kembali lengang. Orang-orang berpakaian serba baru
yang semenjak fajar berjajar membentuk sap-sap untuk berjamaah sholat 'id itu
telah pulang ke rumahnya masing-masing. Demikian pula dengan Den Lara Hartati,
Hamidah, dan ketiga anaknya.
Di ruangan tamu, Den
Lara Hartati sibuk melayani tamu-tamunya yang datang untuk ber-khalal bil
khalal. Kedua anak Hamidah bermain petasan lombok rawit di halaman dengan
anak-anak sebayanya. Sementara Hamidah yang galau lantaran belum terkirimnya WA
ke android Pras itu duduk di ruangan keluarga sembari menggendong bayinya.
Sibuk dengan remote controldi depan televisi.
Hamidah serasa
tersambar petir di siang bolong, manakala menyimak breaking news dari salah
satu stasiun televisi: "Telah terjadi tabrakan maut BMW hitam dengan bis
trans Jakarta. Kedua penumpang BMW, Nurlinda dan lelaki yang tak diketahui
identitasnya tewas. Sementara, sopir melarikan diri...."
Tanpa mencermati
kedua mayat korban kecelakaan yang dimasukkan ke dalam ambulans, Hamidah
beranjak dari ruang keluarga. Melangkah gontai menuju ruang tamu. Di mana Den
Lara Hartati yang barusan mengantarkan tamu-tamunya sampai di depan pintu itu
duduk sendirian. "Aku harus segera pulang ke Jakarta, Bu. Mas Pras
kecelakan."
"Apa?" Den
Lara Hartati beranjak dari kursi. "Pras kecelakaan? Dari mana kamu
tahu?"
"Televisi,
Bu."
"Kalau begitu,
kita ke Jakarta sama-sama."
Hamidah melangkah ke
teras rumah untuk memanggil kedua anaknya yang masih bermain petasan dengan
anak-anak sebayanya. Dalam sekejap, Hamidah serupa patung hidup. Manakala kedua
matanya menangkap BMW hitam yang merangkak pelan menuju halaman rumah mertuanya
itu.
Hamidah terasa
terseret ke alam mimpi. Tak percaya bila
lelaki berpakaian perlente yang keluar dari BMW hitam dan diikuti kedua anaknya
itu adalah Pras. Ia pun tak percaya, bila lelaki yang mencium lembut kening bayinya
di gendongan itu adalah suaminya.
"Hei! Kenapa kau
memandang suamimu seperti itu, Dik?" tanya Pras penuh keheranan. "Apa
yang aneh dengan diriku?"
"Bukankah Mas
Pras mengalami kecelakaan di Jalan Salemba bersama Nurlinda?"
"Oh, jadi itu
yang menyebabkan Dik Hamidah memandangku seperti itu? Sudah! Sudah! Kita masuk
ke dalam dulu! Nanti aku jelaskan semuanya."
Disertai kedua
anaknya, Hamidah mengikuti langkah Pras ke dalam ruangan tamu. Sesudah sungkem
pada Den Lara Hartati, Pras menjelaskan segala permasalahannya di Jakarta.
"Siang kemarin, aku mengadakan rapat dengan Nurlinda dan Pramono stafku
itu di kantor perusahaan. Dalam rapat itu, aku meminta Nurlinda agar
mengembalikan uang perusahaan yang dihutangnya buat membayar THR pada seluruh
karyawan. Karena Nurlinda belum sanggup mengembalikan uang pinjaman yang
disalahgunakan untuk kredit BMW dan bersenang-senang dengan Pramono, terpaksa
aku mengambil tabungan dan melepaskan tiga androidku untuk membayar THR.
Sesudah persoalan itu beres, aku putuskan untuk mudik. Setiba di perbatasan
Yogja-Purworeja, aku mengetahui bahwa Nurlinda dan Pramono mengalamai
kecelakaan hingga tewas lewat televisi mobil itu."
Seusai penjelasan
Pras, Hamidah merasakan dadanya terbebas dari sebongkah batu yang menyumpalnya.
Merasakan bahwa Tuhan sang penabur keadilan di ladang kehidupan telah hadir di
ruang tamu di hari fitri itu. Kehadiran-Nya yang sejauh mata batin Hamidah
memandang itu serupa matahari biru di langit lebaran.
Sumber:
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran
Subscribe to:
Comments (Atom)
ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: Trik Cantik Mencipta "Prosa Lirik"
ARTIKEL UTAMA KOMPASIANA: Trik Cantik Mencipta "Prosa Lirik" : BARANGKALI kita pernah mendengar atau membaca salah satu karya sast...
-
LUKISAN LELAKI YANG MEMERSEMBAHKAN DOMBA Sri Wintala Achmad LELAKI paruh baya berpakaian lusuh menenteng lukisan terbungkus koran...
-
MATAHARI BIRU DI LANGIT LEBARAN Sri Wintala Achmad BAGAIKAN piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit ...
-
BARANGKALI kita pernah mendengar atau membaca salah satu karya sastra masterpiece Linus Suryadi AG yang bertajuk Pengakuan Pariyem. ...

